Jalur Sepeda Bandung

Bandung selain surga nya kuliner dan belanja, juga banyak terdapat jalur-jalur sepeda gunung.
Mungkin bagi komunitas goweser MtB Bandung jalur-jalur ini sudah tak asing lagi, bahkan sudah menjadi jalur favorit di setiap weekend tiba.

Saya sendiri sebagai pemula yang baru terjun di dunia persepedaan dan kebetulan tinggal di Bandung mulai meng exsplore dan tertarik untuk mencoba jalur-jalur sepeda gunung yang cukup banyak di Bandung ini. Jalur yang saya susuri ini memang sudah ada, yang dulunya hasil rintisan dari beberapa komunitas sepeda. 

Berikut beberapa jalur yang pernah saya coba, yang mungkin sebagian saja dari sekian banyak jalur yang ada. Jalur yang saya coba yaitu jalur yang berangkatnya nanjak dan pulangnya turunan, yang memang sangat asik untuk di susuri.

Kawah TP - DH Cikole - Jayagiri - Boscha - Pondok Hijau
Jalur klasik yang cukup menguras tenaga bagi sebagian goweser yang belum terbiasa nanjak :D
Namun rasa lelah akan hilang ketika sampai di kawah Tangkuban Parahu yang memang merupakan akhir dari perjalanan menanjak. Setelah cukup menikmati pemandangan dan ngopi-ngopi goweser pun akan dimanjakan dengan jalur turunan yang bervariatif antara jalur aspal yang hancur, melewati lintasan DH Cikole, jalur makadam yang berlanjut menuju jalur single track Jayagiri, bertemu jalan aspal dan makadam di Lembang kemudian single track yang cukup panjang setelah melewati Boscha.

Jayagiri - DH Cikole - Dinopark - Maribaya - Tahura
Dilihat dari jaraknya jalur ini lebih pendek nanjaknya dari jalur sebelumnya diatas, karena dari Lembang jalur memotong langsung menuju DH Cikole melalui jalur Gunung Putri. Dari sini goweser akan langsung dimanjakan dengan turunan di lintasan DH hingga ke pintu Cikole. Cukup asik, namun siap-siap saja nanjak lagi sekitar 2 Km menuju pintu Tangkuban Parahu. Tanjakan berakhir dan waktunya turunan kembali di jalur single track hutan yang cukup lebar (Dinopark). Sampai di Cikareumbi, jalur berganti menjadi jalan aspal agak rusak di perkampungan yang kemudian jalan mulus hingga ke Maribaya. Negosiasi tiket masuk, kemudian perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri jalur Paving Blok di kawasan Tahura Djuanda. Jalurnya enak sekali, cukup teduh karena hutannya yang masih terjaga.

Warban - Tahura
Bagi sebagian goweser Bandung mungkin sudah tidak asing lagi dengan nama Warban (Warung Bandrek), karena tempat ini merupakan salah satu tempat yang paling ramai dikunjungi pesepeda dikala week end tiba. Nah bagi yang ingin merasakan suasana lain ketika turun dari Warban, mungkin bisa menggunakan jalur turun menuju Tahura ini. Jalurnya sendiri yaitu melalui jalur turunan tanah hingga ke kampung Sekejolang, dari sini kemudian jalur turunan tanah kembali yang mungkin akan sangat sulit bila kondisi tanahnya basah setelah hujan. Sampai di jembatan, jalur pun berganti dengan Paving Blok melintasi beberapa warung dengan suasana yang cukup teduh. Setelah melewati Goa Belanda jalur berganti menjadi jalan aspal lebar hingga keluar ke jalur semula di Warung Pakar.

Warban - Tamiya
Jalur lainnya dari Warban yaitu menuju jalur Tamiya. Lintasan jalurnya sendiri cukup variatif, antara jalur tutunan single track yang cukup panjang, jalur aspal dan sedikit jalur makadam, dengan melintasi perkampungan dan perkebunan penduduk.

Palasari 2
Posisi jalur ini berada tepat di pinggir gunung Palasari dengan melintasi hutan pinus kemudian perkebunan dan perkampungan hingga ke bawahnya. Lintasan jalurnya antara single track yang cukup panjang, jalur makadam dan kemudian jalur aspal di perkampungan penduduk.

--
Palintang - Kiarapayung via Patok Beusi
Bila dalam keadaan setelah hujan siap-siap saja sepeda bermandikan lumpur, karena di beberapa titik banyak terdapat kubangan bekas motor trail. Tapi walaupun kotor-kotoran jalur ini masih tetap asik untuk di susuri, karena resiko ban Ngadonat cukup kecil di jalur ini. Kondisi jalurnya antara makadam dan single track kemudian jalur aspal di perkapungan menuju Kiarapayung nya. Jalurnya sendiri yaitu melintasi lahan Kina dengan pemandangannya yang cukup bagus, perkebunan penduduk, hutan bambu dan pinus, kemudian perkampungan. Yang enaknya lagi setelah sampai di Kiarapayung kita bisa ngopi-ngopi ataupun makan nasi lalap di warung yang ada di Bumi Perkemahan Kiarapayung ini.

Kareumbi - Nagreg
Bila ingin menikmati hutan yang cukup asri, jalur ini sangat cocok untuk disusuri. Sebelum menjajal track menuju Nagreg, para goweser juga bisa sengaja bermalam di kawasa Masigit Kareumbi ini, karena disini disediakan rumah panggung ataupun tempat nenda lengkap dengan fasilitas mushola dan MCK. Kondisi jalurnya antara makadam dan single track diantara hutan yang cukup asri.